gunung everest

Kisah Pendaki Korea di Gunung Everest

Dikutip https://betwin188.website/

Inilah cerita pendaki gunung yang berjuang membawa kembali jasad sahabatnya yang tewas di Everest, gunung tertinggi di dunia.

Gunung bukan guna ditaklukkan. Begitu kata Um Hong-giluntuk Park Moo-taek di mula masa inisiasi yang dilaksanakan pendaki gunung senior terhadap semua juniornya. Hong-gil telah jauh lebihkawakan ketimbang Moo-taek. Sebagai kapten dalam kesebelasan pendakinya, ia menggembleng jasmani dan mental juniornya tersebut habis-habisan. Sebab, gunung-gunung tertinggi di bumi bukanlah medan bersahabat dengan manusia. Apalagi, Hong-gil tadinya tak mempercayai keterampilan Moo-taek dalam memanjat gunung. Karena sejumlah tahun sebelumnya, Moo-taek sempat nyaris menjerumuskan dirinya sendiri. Namun, perlahan pendaki senior dan junior ini saling padu dan menjadi kawan serta mitra yang tangguh dalam dunia pendakian gunung. Bermula dari puncak Kanchenjunga, gunung tertinggi ketiga di dunia (8.586 meter) sesudah Everest dan Chogori, mereka kemudian menjejakkan kakinya di puncak-puncak dunia.  Namun, cedera lama di kakinya menciptakan Hong-gil mesti menjauh dari gunung. Everest juga batal didakinya bareng Moo-taek. Juniornya tersebut kemudian menjadi kapten untuk tim pendaki yang akan berjuang mencapai puncak Gunung Everest (8.848 meter). Malang untuk Moo-taek,sebab ia terjebak di atas Everest. Setahun lantas Hong-gil menyusun tim untuk mengerjakan Ekspedisi Manusia. Misi mereka bukanlah untukmenjangkau puncak Everest, tapi mengejar jasad Moo-taek dan membawanya pulang. Inilah jalinan cerita melodrama The Himalayas yang memikat hati tidak sedikit penonton di Korea Selatan. The Himalayas bukanlah film tentangpemanjatan gunung, tetapi film mengenai persahabatan dan upaya untukmemahami diri sendiri, orang beda dan kehormatan alam. Hwang Jung-min, pemeran figur Um Hong-gil, ikut menikmati hal-hal tersebut saat lakukan syuting The Himalayas di pegunungan tertinggi di dunia itu. Bahkan, Hwang menikmati kesepian di atas sana. “Saya dapat merasakan apa yang dialami Um Hong-gil saat ia berusaha mendaki gunung. Ketika anda berada di elevasi seperti di Himalaya, pertanyaan yang terus menghantui bukanlah bagaimana agar kita dapat terus hidup, namun apakah anda akan mati atau hidup? Sulit diandalkan  bahwa kehidupan manusia dapat sangat rapuh (di situasi seperti itu), dan itulah alasan-alasan kenapa Um memanggul tanggung jawab yang besar atas nyawa teman-teman dan tim pemanjatan yang dipimpinnya,” kata Hwang Jung-min, yang pun membintangi film A Violent Prosecutor, The Wailing, Veteran, dan Ode to My Father. Tokoh Um Hong-gil ialah nyata, bukan rekaan pengarang skenario Suo Jieun-min. Dalam realitasnya, Um Hong-gil ialah pendaki gunung profesional dari Korea Selatan yang sukses mencapai puncak 14 gunung tertinggi di dunia (dengan elevasi di atas 8.000 meter) dalam kurun masa-masa 12 tahun. Atas keberhasilannya ini, dia dianugerahi Himalayan Crown pada tahun 2001. Um Hong-gil juga menjadi orang Korea Selatan kesatu dan orang kesebelas di dunia yang mendapat anugerah itu. Ya, The Himalayas ialah film yang diciptakan menurut empiris nyata Um Hong-gil pada tahun 2005. Tentang bagaimana ia berani merelakan nyawanya demi menjangkau puncak-puncak gunung tertinggi di dunia, mengenai bagaimana dia memimpin dan bertanggung jawab atas keselamatan nyawa anggota kesebelasan pendakinya, dan mengenai keganasan alam di elevasi bumi di atas 8.000 meter. Jung Woo, pemeran Park Moo-taek, merasakan bagaimana sulitnya hidup di sekitar atap bumi itu.”Saat syuting film ini di Nepal paling sulit. Saya hanya dapat tidur dengan masa-masa yang lumayan ketika kami syuting di Mont Blanc di Prancis, namun saya jarang istirahat di Nepal. Saya terbiasa istirahat secara singkat, melulu satu atau dua jam saja. Suhunya pun sangat dingin. Dan sebab saya tidak dapat mandi, badan saya bau. Itu situasi yang susah buat saya, dan saya menjadi lebih menghargai hidup saya di sini. Saya jadi mensyukuri sekian banyak  hal yang jarang saya simaklah dalam kehidupan keseharian saya. Bahkan dapat meminum secangkir kopi di sana menciptakan saya bersyukur sekali,” ungkap Jung Woo yang pernahmemerankan film karya Kim Ki-duk, Red Family, dan serial drama TV Reply 1994.Dengan berbekal plot tentang pemanjatan gunung tertinggi di bumi dan upaya membawa pulang jasad sahabat, film arahan Lee Seok-hoon ini juga menjadi tontonan laris di Korea Selatan. Film blockbuster dari Hollywood sebesar Star Wars: The Force Awakens juga tak dapat menggeser The Himalayas dari posisi puncak box office Korea Selatan. Ketika film buatan JK Film yang didistribusikan CJ Entertainment ini diluncurkan perdana pada 16 Desember 2015, terdapat lebih dari 203 ribu pemirsa yang menontonnya di bioskop.Rekor box office pada Hari Natal juga dipecahkan The Himalayas yang menggaet 746.420 penonton. Bahkan, dalam sebulan, film yang pun diperkuat oleh akting Jo Sung-ha, Kim In-kwon, Ra Mi-ran, Kim Won-hae, Lee Hae-yeong, dan Jeon Bae-soo ini sukses menjual 7 juta tiket dalam tidak cukup dari sebulan. Dan mulai besok, Rabu, 20 Januari 2016, The Himalayasakan diputar di bioskop-bioskop Indonesia di jaringan CGV blitz, Cinemaxx dan Platinum. Ini trailer-nya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *